Gotong Royong Petani Membuka Lahan Ladang Baru

1783131856947.jpg
Gambar: menebas ladang ( rima eilysanthi putri ) Sumber: https://longtebulo.desa.id/


Desa Long Tebulo, Memasuki pertengahan tahun, Masyarakat khususnya petani padi ladang memulai musim penting dalam siklus pertanian tradisional. Musim ini dikenal sebagai masa pencarian dan pembukaan lahan baru untuk dijadikan ladang. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah senguyun.

Senguyun sebagai bentuk kerja sama, kegiatan ini merujuk pada aktivitas menebas semak, menebang pohon kecil, serta membersihkan lahan ladang.

Prinsip utama senguyun adalah gotong royong. Sejumlah keluarga petani berkumpul dan secara bergiliran membantu menebas lahan milik anggota kelompok. Hari ini giliran lahan milik A, esok giliran lahan milik B. Sistem ini mempercepat pekerjaan pembukaan lahan yang berat jika dilakukan sendiri, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.

pembukaan ladang melalui senguyun yaitu dari Proses senguyun yang dilaksanakan dengan tahapan terstruktur berdasarkan kearifan lokal:

- Penentuan Lahan: Lahan dipilih dengan mempertimbangkan tingkat kesuburan tanah, dan ketersediaan sumber air. Umumnya dipilih hutan sekunder agar proses regenerasi alam tetap berjalan.

- Pelaksanaan Penebasan: Menggunakan parang dan kapak, semak belukar serta pohon kecil ditebas hingga bersih. Batang besar dibiarkan untuk dikeringkan. Pekerjaan dilakukan bersama-sama dari pagi hingga sore dengan semangat kebersamaan.

- Pengeringan: Setelah ditebas, kayu dan ranting dibiarkan mengering selama beberapa minggu. Pengeringan optimal terjadi pada musim kemarau bulan keenam hingga ketujuh, sehingga pembakaran lahan pada tahap berikutnya dapat berlangsung sempurna.

Selain tujuan praktis mempercepat pembukaan lahan, senguyun memiliki nilai budaya yang tinggi. Tradisi ini menanamkan sikap tolong-menolong, tanggung jawab kolektif, serta rasa kebersamaan. Bagi petani, ladang hasil senguyun menjadi tumpuan ketahanan pangan keluarga hingga masa panen tiba.

Senguyun juga mencerminkan kearifan lingkungan. Sistem ladang berpindah yang diterapkan setelah senguyun memberi jeda bagi tanah untuk pulih melalui masa bera. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem hutan tetap terjaga.

Musim senguyun adalah bukti bahwa kemajuan pertanian tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Di balik kerja keras yang dilakukan bersama, tersimpan harapan akan panen melimpah.

Bagikan post ini: